A B S T R A C T
This Review paper extensively discusses VET integration at the secondary level, ranging from historical and present relevance to prospects. Stemming from historical apprenticeships, VET education took off in the 20th century, being an essential curriculum for either vocational or academic-oriented learning globally. Mainly characterized by practice-oriented learning, VET connects theory with practical experience from internships or work-based settings. However, there are challenges such as combating stigmatizations and slow curriculum development, given the graded advancement in technology. VET has an extensive historical precedent in India. With new legislation such as NEP 2020, India aims to improve VET through targeted 50% student exposure by 2025. NEP 2020 emphasizes careful curricular adjustment, industry engagement, and early career exposure among other measures. To conclude, the research on entrepreneurship in India highlights the centrality of VET in promoting self-employment and reducing skill gaps. Re-envisaging VET as agile and equitable is central to the aspiration of the broader economy. Efforts such as enhancing public-private partnerships, infrastructure, as well as sectoral initiatives, are critical components. Other complementary measures would be minimizing rural-urban differences, improving teach distribution, and aligning vocational education to the mainstream system. Setting up new production-cum-training centers, and upscaling research complement these interventions. More importantly, addressing various concerns as a whole would be in the best interest of making VET work in secondary schools.
https://drive.google.com/file/d/1HU3oCLbqVRPBD0ayGBEEVHETT2HFPG_h/view?usp=drive_link
Tinjauan Komprehensif Pendidikan dan Pelatihan Vokasional (VET) di Sekolah Menengah
Abstrak
Paper ini membahas secara komprehensif integrasi Vocational Education and Training (VET) pada jenjang sekolah menengah, mulai dari perkembangan historis, kondisi aktual, tantangan implementasi, hingga prospek masa depan. VET menekankan pembelajaran berbasis praktik yang menghubungkan teori dengan pengalaman kerja nyata melalui magang dan pembelajaran berbasis industri.
Meskipun memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga kerja terampil dan mengurangi kesenjangan keterampilan, VET masih menghadapi berbagai kendala seperti stigma sosial, keterbatasan infrastruktur, dan lambatnya pembaruan kurikulum. Di India, kebijakan National Education Policy (NEP) 2020 menjadi tonggak penting yang menargetkan 50% peserta didik memperoleh paparan pendidikan vokasional pada tahun 2025. VET diposisikan sebagai instrumen penting dalam mendorong kewirausahaan, kemandirian ekonomi, dan pertumbuhan inklusif.
IJRPR30483
Konsep Pendidikan Vokasional (VET)
Pendidikan vokasional adalah bentuk pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk pekerjaan tertentu melalui penguasaan keterampilan praktis dan teknis. Berbeda dengan pendidikan akademik murni, VET mengintegrasikan:
pengetahuan teoretis,
keterampilan praktik,
pengalaman kerja langsung di dunia industri.
Sejarah VET berakar dari sistem magang dan guild pada masa awal peradaban, kemudian berkembang pesat pada abad ke-20 seiring industrialisasi. Saat ini, VET menjadi bagian penting kebijakan pendidikan global untuk menjawab kebutuhan pasar kerja yang dinamis dan beragam.
Ciri utama VET di sekolah menengah meliputi:
pembelajaran berbasis praktik (hands-on learning),
keterlibatan industri,
magang dan kerja lapangan,
orientasi pada produktivitas dan kesiapan kerja.
Latar Belakang VET di India
Sejak masa kolonial Inggris, pendidikan vokasional telah mendapat perhatian dalam sistem pendidikan India. Beberapa tonggak penting antara lain:
Woods Dispatch (1854): menekankan pentingnya keterampilan praktis.
Hartog & Sapru Committee: mendorong diversifikasi kurikulum sekolah menengah.
Wardha Scheme (1937): pendekatan pendidikan berbasis keterampilan dan kerja.
Kothari Commission (1964–1966): memperluas dan memperkuat pendidikan vokasional.
National Education Policy 1968, 1986, 2009: mempertegas peran vokasi dalam peningkatan daya saing tenaga kerja.
Kerangka National Skill Qualification Framework (NSQF) dikembangkan untuk menyelaraskan pendidikan vokasional dengan standar kompetensi nasional dan internasional.
VET dalam Kerangka NEP 2020
NEP 2020 menempatkan pendidikan vokasional sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Beberapa kebijakan kunci meliputi:
Target 50% peserta didik mendapatkan paparan VET pada 2025
Paparan karier dimulai sejak kelas 6
Integrasi VET dengan pendidikan umum
Kurikulum fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan industri
Penilaian berbasis kompetensi
Penguatan pelatihan dan profesionalisme guru vokasional
Kolaborasi dengan industri, ITI, politeknik, dan komunitas lokal
Diagram pada paper menunjukkan hubungan sistem pendidikan dengan industri, menekankan jalur vertikal dan horizontal dalam pengembangan keterampilan.
Metode Review
Penelitian ini menggunakan metode literature review, dengan sumber data dari:
jurnal internasional (Elsevier, Springer),
Google Scholar dan ResearchGate,
buku, disertasi, dan laporan kebijakan pendidikan.
Fokus kajian diarahkan pada:
implementasi VET di sekolah menengah,
manfaat VET terhadap pengembangan keterampilan,
efektivitas dan tantangan pelaksanaan.
Tantangan Implementasi VET
Beberapa tantangan utama yang diidentifikasi antara lain:
Stigma sosial terhadap pendidikan vokasional
Keterbatasan infrastruktur dan fasilitas praktik
Kurangnya guru vokasional yang kompeten
Kurikulum tidak selaras dengan kebutuhan industri
Ketimpangan wilayah (desa–kota)
Rendahnya kesadaran siswa dan orang tua
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa rendahnya kualitas pembelajaran dan minimnya pelatihan industri berdampak langsung pada rendahnya daya saing lulusan.
Dampak VET terhadap Pengembangan Keterampilan
Pendidikan vokasional terbukti berkontribusi signifikan terhadap:
peningkatan keterampilan kerja,
kesiapan memasuki pasar tenaga kerja,
peningkatan produktivitas dan inovasi,
pertumbuhan kewirausahaan.
VET juga mengembangkan employability skills seperti:
komunikasi,
kerja tim,
kreativitas,
pemecahan masalah,
literasi teknologi.
Efektivitas Program Pendidikan Vokasional
Efektivitas VET diukur melalui:
tingkat partisipasi siswa,
kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri,
persepsi guru dan siswa,
peningkatan pendapatan lulusan.
Studi menunjukkan bahwa lulusan pendidikan vokasional yang relevan dengan kebutuhan industri memiliki pendapatan dan kepuasan kerja lebih tinggi dibanding lulusan jalur akademik murni.
Kesimpulan
Paper ini menegaskan bahwa pendidikan dan pelatihan vokasional di sekolah menengah bukan pelengkap, melainkan komponen esensial sistem pendidikan modern.
VET berperan penting dalam:
menyiapkan tenaga kerja terampil,
mengurangi kesenjangan keterampilan,
mendorong kewirausahaan,
mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif.
Keberhasilan VET sangat bergantung pada:
penghapusan stigma,
peningkatan kualitas program,
sinergi antara sekolah, industri, dan pemerintah,
kebijakan pendidikan yang adaptif dan berkelanjutan.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar