Rabu, 28 Januari 2026

Teaching Programming

 




https://drive.google.com/file/d/1sc_A2H1tEp61FNF7z1dZ1kNU5dZEA_Ir/view?usp=drive_link

https://drive.google.com/file/d/1fUws9jRpdqvBfmJrPL9uR9om5HlHpFo_/view?usp=drive_link


Pengajaran Dasar-Dasar Pemrograman bagi Mahasiswa Tahun Pertama Non-Teknologi Informasi

Penulis

Olga Mironova, Irina Amitan, Jelena Vendelin, Jüri Vilipõld, Merike Saar
Tallinn University of Technology, Estonia


Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan metodologi pengajaran pemrograman dasar bagi mahasiswa tahun pertama non-Teknologi Informasi (non-TI) di Departemen Informatika Tallinn University of Technology, Estonia. Penulis mengusulkan pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan pemahaman konsep pemrograman yang umumnya dianggap sulit oleh pemula. Pendekatan ini menekankan pemrograman visual menggunakan Scratch sebagai tahap awal sebelum mahasiswa mempelajari bahasa pemrograman berbasis teks seperti Python dan Visual Basic for Applications (VBA). Hasil pengalaman pengajaran menunjukkan bahwa visualisasi algoritma dan konsep pemrograman dapat meningkatkan motivasi, pemahaman, serta hasil belajar mahasiswa non-TI.

Teaching_programming_basics_for…


1. Pendahuluan

Perkembangan teknologi informasi menuntut setiap lulusan perguruan tinggi, termasuk mahasiswa non-TI, memiliki kemampuan berpikir komputasional (computational thinking). Tujuan utama pendidikan komputer bagi mahasiswa non-TI bukan untuk menjadikan mereka programmer profesional, melainkan agar mereka:

  • Memahami dasar teknis pemrograman

  • Mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan spesialis TI

  • Siap menghadapi dunia kerja digital

Paper ini berupaya menjawab pertanyaan utama: bagaimana cara meningkatkan hasil pembelajaran pemrograman dasar bagi mahasiswa non-TI tahun pertama?

Teaching_programming_basics_for…


2. Tinjauan Singkat Kondisi Pengajaran Komputasi

Penulis menjelaskan bahwa kondisi pengajaran informatika di sekolah menengah, khususnya di Estonia, masih tidak seragam. Beberapa sekolah bahkan tidak mengajarkan informatika sama sekali, atau hanya dalam waktu yang sangat terbatas. Akibatnya:

  • Mahasiswa non-TI masuk perguruan tinggi dengan tingkat kemampuan komputer yang sangat beragam

  • Sebagian besar hanya terbiasa menggunakan komputer untuk media sosial

  • Motivasi belajar pemrograman relatif rendah

Kondisi ini menjadi tantangan utama dalam merancang kurikulum informatika di perguruan tinggi.

Teaching_programming_basics_for…


3. Deskripsi Mata Kuliah Informatika

Mata kuliah Informatika di Tallinn University of Technology:

  • Diajarkan selama dua semester

  • Beban belajar dua jam per minggu

  • Jumlah mahasiswa per kelas sekitar 20–30 orang

  • Metode pembelajaran: tatap muka, kerja kelompok, dan pembelajaran mandiri melalui Moodle

Capaian Pembelajaran

Mahasiswa diharapkan mampu:

  • Menganalisis masalah dan memodelkan sistem

  • Memahami relasi objek dan alur algoritma

  • Mengenal konsep Object-Oriented Programming (OOP)

  • Menulis program sederhana menggunakan Python dan VBA

Namun, mata kuliah ini tergolong sulit bagi mahasiswa non-TI karena kurangnya pengetahuan awal dan rendahnya motivasi belajar.

Teaching_programming_basics_for…


4. Pemrograman Visual sebagai Solusi

Untuk mengatasi kesulitan belajar, penulis mengusulkan penggunaan pemrograman visual, khususnya Scratch, sebelum mahasiswa belajar pemrograman berbasis teks.

Alasan Pemilihan Scratch:

  • Tidak memungkinkan kesalahan sintaks

  • Bersifat interpreter (hasil langsung terlihat)

  • Blok visual memudahkan pemahaman alur program

  • Mendukung pemahaman konsep OOP secara intuitif

Scratch digunakan sebagai alat bantu konseptual, bukan untuk menyelesaikan masalah kompleks.

Teaching_programming_basics_for…


5. Pemahaman Konsep Pemrograman melalui Scratch

a. Percabangan dan Perulangan

Blok visual Scratch membantu mahasiswa memahami:

  • Cara kerja if

  • Konsep loop dan iterasi
    Hasil eksekusi langsung terlihat dalam bentuk animasi.

b. Proses Paralel dan Sekuensial

Scratch memvisualisasikan perbedaan antara:

  • Proses yang berjalan bersamaan (paralel)

  • Proses yang berjalan berurutan (sekuensial)

c. Data (Variabel dan List)

Mahasiswa lebih mudah memahami:

  • Variabel sebagai lokasi memori

  • List dan indeks

  • Perbedaan variabel lokal dan global

d. Subrutin (Prosedur)

Scratch memungkinkan pembuatan blok buatan sendiri dengan parameter, sehingga mahasiswa:

  • Belajar memecah masalah besar menjadi bagian kecil

  • Memahami konsep fungsi dan prosedur secara visual

Teaching_programming_basics_for…


6. Transisi ke Python dan VBA

Setelah memahami konsep melalui Scratch, mahasiswa beralih ke:

  • VBA, terutama melalui animasi objek di Microsoft Excel

  • Python, yang bersifat sederhana, open source, dan mudah dipelajari pemula

Scratch membantu mahasiswa memahami:

  • Struktur program

  • Indentasi kode (khususnya di Python)

  • Alur logika sebelum menulis kode teks

Pendekatan ini mempercepat adaptasi mahasiswa terhadap bahasa pemrograman formal.

Teaching_programming_basics_for…


7. Metodologi Pengajaran

Metodologi pengajaran yang diterapkan meliputi:

  • Pemodelan algoritma menggunakan UML Activity Diagram

  • Penjelasan verbal dan pseudo code

  • Visualisasi eksekusi program

  • Latihan memperbaiki kode yang salah

  • Kerja kelompok dan pembelajaran berbasis permainan

Sebagian besar mahasiswa merupakan visual learners, sehingga visualisasi menjadi kunci utama keberhasilan pembelajaran.

Teaching_programming_basics_for…


8. Kesimpulan

Paper ini menyimpulkan bahwa:

  • Fokus pengajaran pemrograman bagi mahasiswa non-TI sebaiknya pada model, algoritma, dan visualisasi, bukan sintaks semata

  • Scratch sangat efektif sebagai media pengantar konsep OOP dan algoritma

  • Setelah konsep dipahami secara visual, mahasiswa lebih mudah mempelajari bahasa pemrograman apa pun

Pemrograman visual terbukti meningkatkan pemahaman, motivasi, dan hasil belajar mahasiswa non-TI.

Smart Training Framework and Assessment Strategies

 




Kerangka Pelatihan Cerdas dan Strategi Asesmen

Penulis

Tanvi Gaikwad, Ambarish Kulkarni
School of Engineering, Swinburne University of Technology, Australia


Abstrak

Perkembangan teknologi yang sangat pesat telah mentransformasi sektor pendidikan dan melahirkan industri EdTech. Dua komponen utama pendidikan—pelatihan (training) dan asesmen (assessment)—menghadapi berbagai tantangan, seperti kesenjangan keterampilan akibat kemajuan teknologi, biaya pelatihan yang tinggi, pelaksanaan pelatihan pada lingkungan berisiko tinggi, serta metode asesmen yang kaku dan minim umpan balik personal.

Penelitian ini mengusulkan sebuah Smart Training and Assessment Framework (STAF) yang memanfaatkan Augmented Reality (AR) dan Artificial Intelligence (AI) berbasis Large Language Models (LLMs). Sebagai bagian dari penelitian, modul pelatihan berbasis AR dikembangkan dan diuji kepada mahasiswa. Hasil survei menunjukkan bahwa integrasi AR meningkatkan pengalaman belajar, dan akan lebih optimal jika dikombinasikan dengan AI dan LLM melalui teknik prompt engineering untuk meningkatkan interaktivitas dan performa peserta didik. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi LLM dalam lingkungan AR masih terbatas dan memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pelatihan dan asesmen.

Smart_Training_Framework_and_As…


1. Pendahuluan

Sektor pendidikan di Australia mengalami transformasi signifikan, dengan pembelajaran daring menjadi metode dominan dalam pelatihan kerja. Industri EdTech berperan penting dalam mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Namun, sistem pelatihan dan asesmen saat ini masih menghadapi permasalahan seperti:

  • Kesenjangan keterampilan (skills gap)

  • Keterbatasan pelatihan berkualitas

  • Minimnya umpan balik personal kepada peserta didik

Berbagai studi menunjukkan bahwa AR mampu meningkatkan pemahaman melalui visualisasi nyata, sedangkan AI dan LLM berpotensi mendukung pembelajaran adaptif, personal, dan interaktif. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan kerangka STAF yang menggabungkan LLM + prompt engineering + AR sebagai solusi inovatif dalam pelatihan dan asesmen.

Smart_Training_Framework_and_As…


2. Praktik Pelatihan Saat Ini

Paper ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama dalam pelatihan konvensional:

a. Kesenjangan Keterampilan

Perubahan teknologi yang cepat menyebabkan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.

b. Lingkungan Berisiko Tinggi

Pelatihan di sektor seperti militer, penerbangan, dan industri berbahaya memiliki risiko keselamatan yang tinggi jika dilakukan secara langsung.

c. Masalah Kualitas

Terdapat ketimpangan kualitas pelatihan antar institusi akibat perbedaan fasilitas dan kompetensi instruktur.

d. Faktor Ekonomi

Biaya pelatihan dan penyediaan infrastruktur praktik yang tinggi menjadi hambatan dalam skala besar.

e. Kompleksitas Materi

Pelatihan yang kompleks dan teknis sering sulit dipahami tanpa visualisasi dan simulasi yang memadai.

AR dipandang sebagai solusi yang mampu mengatasi sebagian besar tantangan tersebut.

Smart_Training_Framework_and_As…


3. Strategi Asesmen Saat Ini

Metode asesmen tradisional memiliki keterbatasan, antara lain:

a. Teknik Evaluasi

Asesmen cenderung hanya mengukur hafalan, bukan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan penerapan praktis.

b. Umpan Balik

Peserta didik hanya menerima penilaian benar–salah tanpa arahan perbaikan yang personal dan berkelanjutan.

Kondisi ini mendorong perlunya asesmen cerdas berbasis AI.

Smart_Training_Framework_and_As…


4. Smart Training and Assessment Framework (STAF)

STAF dikembangkan melalui tahapan:

  1. Pengumpulan kebutuhan pelatihan

  2. Pemanfaatan LLM untuk menghasilkan:

    • Rencana pelatihan

    • Materi pembelajaran

    • Instruksi dan artefak pelatihan

  3. Visualisasi pelatihan menggunakan AR melalui digital twin

  4. Modul asesmen cerdas untuk:

    • Penyusunan rubrik

    • Pemberian umpan balik personal

Kerangka ini memungkinkan integrasi pelatihan, asesmen, dan umpan balik dalam satu sistem terpadu.

Smart_Training_Framework_and_As…


5. Pelatihan Cerdas Berbasis AR dan LLM

a. Pelatihan Berbasis Mixed Reality

Penelitian mengembangkan modul pelatihan AR menggunakan digital twin lengan robot. Modul ini memungkinkan:

  • Visualisasi 3D

  • Interaksi langsung dengan objek virtual

  • Fitur anotasi, exploded view, dan spatial meeting

b. Hasil Survei

Survei menunjukkan:

  • 50% peserta menggunakan pelatihan AR secara mingguan

  • 80% menyatakan AR membantu memahami materi kompleks

  • Peserta tertarik pada pelatihan industri, manufaktur, keselamatan, otomotif, dan pendidikan K–12

Peserta juga menilai bahwa pelatihan AR akan lebih efektif jika diintegrasikan dengan LLM.

Smart_Training_Framework_and_As…


6. Peran Large Language Models (LLMs) dalam Pelatihan

LLM digunakan dalam STAF untuk:

  1. Virtual Assistant – menjawab pertanyaan dan membimbing peserta

  2. Instruction Generation – menyusun panduan langkah demi langkah

  3. Content Generation – menghasilkan materi, tugas, dan rencana pelatihan

  4. Content Curation – memilih sumber belajar relevan

  5. Personalization – menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individu

Namun, penggunaan LLM juga memiliki tantangan terkait akurasi, privasi data, dan ketergantungan teknologi.

Smart_Training_Framework_and_As…


7. Asesmen Cerdas (Smart Assessment)

STAF mengusulkan asesmen berbasis AI dengan fitur utama:

a. Generasi Rubrik

LLM digunakan untuk menyusun rubrik asesmen secara otomatis berdasarkan tujuan pelatihan dan karakteristik peserta.

b. Umpan Balik Personal

Melalui teknik prompt engineering CLEAR, sistem menghasilkan umpan balik yang:

  • Spesifik

  • Logis

  • Adaptif

  • Reflektif

Hal ini memungkinkan asesmen yang lebih bermakna dan berorientasi pada perbaikan belajar.

Smart_Training_Framework_and_As…


8. Kesimpulan

Paper ini menyimpulkan bahwa:

  • Metode pelatihan dan asesmen konvensional memiliki banyak keterbatasan

  • AR efektif untuk pelatihan kompleks dan berisiko tinggi

  • Integrasi AR dengan LLM dan prompt engineering melalui STAF mampu meningkatkan interaktivitas, personalisasi, dan kualitas asesmen

STAF menawarkan pendekatan inovatif dan berpotensi besar untuk diterapkan dalam pendidikan dan pelatihan modern.


Roadmap Edutech

 




Peta Jalan EduTech Berbasis Inovasi untuk Penguatan Program SMA Double Track di Indonesia

Abstrak

Program SMA Double Track merupakan kebijakan strategis pendidikan menengah di Indonesia yang bertujuan membekali peserta didik dengan kompetensi akademik sekaligus keterampilan vokasional dan kewirausahaan. Tantangan utama dalam implementasi program ini meliputi keterbatasan infrastruktur digital, kesiapan pendidik, serta integrasi pembelajaran akademik dan keterampilan berbasis kebutuhan industri. Artikel ini bertujuan merumuskan peta jalan Educational Technology (EduTech) berbasis inovasi untuk mendukung penguatan Program SMA Double Track di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur, analisis kebijakan pendidikan menengah, serta pendekatan STEEP (Social, Technological, Economic, Environmental, Political). Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan EduTech untuk SMA Double Track dapat dirumuskan dalam empat pilar utama, yaitu (1) infrastruktur dasar pendidikan digital, (2) sistem manajemen pembelajaran dan pelatihan vokasi, (3) courseware berbasis keterampilan dan kewirausahaan, serta (4) penguatan kapasitas pendidik dan peserta didik. Keempat pilar tersebut perlu dikembangkan secara terintegrasi melalui kolaborasi Quadruple Helix antara pemerintah, dunia usaha dan industri, akademisi, serta masyarakat.

Artikel ini merekomendasikan penguatan kebijakan EduTech yang kontekstual terhadap karakteristik SMA Double Track guna meningkatkan relevansi, kualitas, dan keberlanjutan program.

Kata kunci: SMA Double Track, EduTech, Pendidikan Menengah, Kewirausahaan, STEEP


1. Pendahuluan

Pendidikan menengah memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda Indonesia agar mampu beradaptasi dengan dinamika sosial dan ekonomi abad ke-21. Program SMA Double Track dikembangkan sebagai solusi atas keterbatasan lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, dengan memberikan keterampilan vokasional, kewirausahaan, dan kesiapan kerja tanpa menghilangkan fungsi akademik SMA.

Namun demikian, implementasi Program SMA Double Track masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain:

  1. Kesenjangan akses teknologi dan infrastruktur digital antarwilayah

  2. Keterbatasan media pembelajaran praktik berbasis teknologi

  3. Rendahnya literasi digital sebagian pendidik dan peserta didik

  4. Minimnya integrasi sistem pembelajaran akademik dan vokasi

Pandemi COVID-19 semakin memperlihatkan urgensi pemanfaatan teknologi pendidikan dalam mendukung pembelajaran keterampilan secara fleksibel dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan peta jalan EduTech berbasis inovasi yang mampu mendukung pelaksanaan SMA Double Track secara efektif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan kewirausahaan lokal.


2. Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Studi literatur terhadap kebijakan pendidikan menengah, SMA Double Track, pendidikan vokasi, dan transformasi digital pendidikan.

  2. Analisis kebijakan terkait penguatan pendidikan keterampilan dan kewirausahaan di tingkat SMA.

  3. Pendekatan STEEP, meliputi:

    • Sosial: karakteristik peserta didik SMA, kesiapan guru, peran orang tua

    • Teknologi: infrastruktur TIK, platform pembelajaran praktik

    • Ekonomi: kebutuhan pasar kerja lokal, UMKM, dan wirausaha muda

    • Lingkungan: pemanfaatan sumber daya lokal sebagai basis keterampilan

    • Politik: kebijakan pendidikan menengah dan vokasi

  4. Sintesis konseptual untuk merumuskan peta jalan EduTech SMA Double Track.

Pendekatan ini memungkinkan perumusan strategi EduTech yang kontekstual dan aplikatif bagi pendidikan menengah berbasis keterampilan.


3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Pilar Infrastruktur Dasar (Essentials)

Pilar infrastruktur merupakan fondasi utama pengembangan EduTech pada SMA Double Track, yang mencakup:

  • Ketersediaan listrik dan jaringan internet di sekolah

  • Perangkat komputer, laptop, dan gawai pendukung praktik

  • Ruang praktik berbasis teknologi sederhana (studio, dapur praktik, workshop mini)

Tanpa pemenuhan pilar ini, pembelajaran keterampilan berbasis digital berpotensi tidak merata dan kurang optimal.


3.2 Pilar Sistem Manajemen Pembelajaran dan Pelatihan

Sistem manajemen digital diperlukan untuk mengintegrasikan pembelajaran akademik dan keterampilan, meliputi:

  • Learning Management System (LMS) untuk teori dan praktik

  • Sistem manajemen kelas dan pelatihan keterampilan

  • Sistem pelaporan kompetensi dan portofolio siswa

  • Sistem pendataan kemitraan industri dan UMKM

Digitalisasi sistem ini memungkinkan pemantauan perkembangan kompetensi siswa secara berkelanjutan dan berbasis data.


3.3 Pilar Courseware Berbasis Keterampilan dan Kewirausahaan

Courseware pada SMA Double Track difokuskan pada:

  • Modul pembelajaran keterampilan berbasis video dan simulasi

  • Konten kewirausahaan dan bisnis digital

  • Platform pembelajaran praktik mandiri

  • Gamifikasi pembelajaran keterampilan dasar

Courseware harus disesuaikan dengan konteks lokal, potensi daerah, dan kebutuhan pasar kerja, serta berfungsi sebagai pendukung pembelajaran praktik langsung.


3.4 Pilar Penguatan Kapasitas (Capacity Building)

Penguatan kapasitas menjadi kunci keberhasilan implementasi EduTech SMA Double Track, yang meliputi:

  • Peningkatan literasi digital pendidik dan siswa

  • Pelatihan pedagogi pembelajaran hibrida berbasis keterampilan

  • Penguatan kompetensi kewirausahaan siswa

  • Pendampingan guru dalam integrasi teknologi dan praktik lapangan

Tanpa peningkatan kapasitas SDM, pemanfaatan EduTech berisiko tidak memberikan dampak signifikan terhadap kualitas pembelajaran.


4. Diskusi: Kolaborasi Quadruple Helix dalam SMA Double Track

Keberhasilan EduTech dalam SMA Double Track memerlukan kolaborasi:

  • Pemerintah: regulasi, pendanaan, dan standarisasi

  • Dunia usaha dan industri: kebutuhan kompetensi dan praktik kerja

  • Akademisi: pengembangan kurikulum dan evaluasi

  • Masyarakat/UMKM: konteks lokal dan peluang kewirausahaan

Kolaborasi ini mendorong terciptanya ekosistem pendidikan menengah yang relevan, adaptif, dan berkelanjutan.


5. Kesimpulan dan Rekomendasi

Artikel ini menyimpulkan bahwa penguatan Program SMA Double Track memerlukan peta jalan EduTech berbasis inovasi yang terintegrasi melalui empat pilar utama: infrastruktur dasar, sistem manajemen pembelajaran, courseware keterampilan, dan penguatan kapasitas SDM.

Rekomendasi penelitian ini meliputi:

  1. Penyusunan kebijakan EduTech khusus SMA Double Track

  2. Pemerataan infrastruktur digital pendidikan menengah

  3. Penguatan kompetensi digital dan pedagogi guru

  4. Peningkatan kemitraan dengan dunia usaha dan UMKM

Penerapan peta jalan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas lulusan SMA Double Track yang siap kerja, siap wirausaha, dan adaptif terhadap perubahan teknologi.

Selasa, 20 Januari 2026

Perpustakaan ITS

 


https://www.its.ac.id/perpustakaan/id/beranda/

https://www.its.ac.id/perpustakaan/id/buku-elektronik/

Scratch Project

 





Apps Script

 




L. White and R. Allen, “Using google apps script for classroom management and more,” J. Comput. Sci. Coll., vol. 30, no. 2, p. 171–173, Dec. 2014.

D. R. Herrick, “Google this! using google apps for collaboration and productivity,” in Proceedings of the 37th Annual ACM SIGUCCS Fall Conference: Communication and Collaboration, ser. SIGUCCS'09. New York, NY, USA : Association for Computing Machinery, 2009, p. 55–64. [Online]. Available: https://doi.org/10.1145/1629501.1629513

D. Airinei and D. Homocianu, “Cloud computing based web applications. examples and considerations on google apps script.” New York, NY, USA: Proceedings of the IE 2017 International Conference, 2017, pp. 64–69. [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.2139/ss.O.2964756





Vibe Coding

 





Topik Project Based Learning

 







Implementasi Project-Based Learning Center dalam Program SMA Double Track untuk Mengembangkan Kemampuan Creative Problem Solving Siswa

Nama Penulis
Afiliasi
Email


Abstrak

Program SMA Double Track merupakan kebijakan pendidikan yang bertujuan membekali siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan keterampilan vokasi dan kewirausahaan tanpa menghilangkan karakter akademik SMA. Tantangan utama dalam implementasi program ini adalah pengembangan kemampuan creative problem solving siswa agar mampu menghadapi permasalahan dunia kerja dan wirausaha yang bersifat kompleks, kontekstual, dan dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan Project-Based Learning Center sebagai model pembelajaran inovatif dalam Program SMA Double Track. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dan studi konseptual berbasis praktik pembelajaran berbasis proyek. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan Project-Based Learning (PBL) yang terstruktur melalui PBL Center mampu meningkatkan kreativitas, kemampuan berpikir divergen, kemandirian belajar, serta kesiapan kerja dan berwirausaha siswa SMA Double Track. Penelitian ini merekomendasikan PBL Center sebagai strategi penguatan pembelajaran vokasi berbasis proyek dalam Program SMA Double Track di Indonesia.

Kata kunci: Project-Based Learning, SMA Double Track, Creative Problem Solving, Pendidikan Vokasi, Kesiapan Kerja


1. Pendahuluan

Perubahan kebutuhan dunia kerja dan industri pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menuntut lulusan pendidikan menengah memiliki keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Menjawab tantangan tersebut, pemerintah Indonesia mengembangkan Program SMA Double Track sebagai upaya memberikan keterampilan vokasi dan kewirausahaan kepada siswa SMA, khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi.

Meskipun Program SMA Double Track telah memberikan kontribusi signifikan dalam penguatan keterampilan praktis siswa, implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama dalam aspek pembelajaran yang cenderung bersifat prosedural dan kurang menumbuhkan kreativitas. Banyak kegiatan pelatihan vokasi masih berorientasi pada keterampilan teknis semata, tanpa memberi ruang bagi siswa untuk berpikir kreatif dan menyelesaikan masalah nyata.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membangun kemampuan creative problem solving. Salah satu pendekatan yang relevan adalah Project-Based Learning (PBL) yang diorganisasikan melalui Project-Based Learning Center sebagai pusat pembelajaran terintegrasi.


2. Tinjauan Pustaka

2.1 Program SMA Double Track

Program SMA Double Track merupakan program penguatan kompetensi tambahan bagi siswa SMA melalui pelatihan keterampilan vokasi dan kewirausahaan. Program ini dirancang untuk meningkatkan daya saing lulusan SMA agar memiliki alternatif selain melanjutkan ke perguruan tinggi, yaitu bekerja atau berwirausaha. Oleh karena itu, pembelajaran dalam program ini harus bersifat aplikatif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

2.2 Creative Problem Solving dalam Pendidikan Menengah

Creative problem solving adalah kemampuan mengidentifikasi permasalahan, mengeksplorasi berbagai alternatif solusi, serta menghasilkan solusi inovatif yang dapat diterapkan. Dalam konteks pendidikan menengah, kemampuan ini penting untuk membentuk pola pikir mandiri, adaptif, dan berorientasi pada solusi. Pengembangan creative problem solving tidak dapat dicapai melalui pembelajaran pasif, tetapi memerlukan pengalaman belajar yang menantang dan bermakna.

2.3 Project-Based Learning dan PBL Center

Project-Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan proyek sebagai sarana utama pembelajaran. Melalui PBL, siswa belajar dengan mengerjakan proyek nyata yang menuntut perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi. PBL Center merupakan pengembangan dari PBL yang berfungsi sebagai pusat kegiatan pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi, dan inovasi. Dalam konteks SMA Double Track, PBL Center dapat berperan sebagai ruang praktik vokasi, inkubator wirausaha siswa, dan penghubung dengan dunia usaha lokal.


3. Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan analisis konseptual. Data diperoleh dari jurnal nasional dan internasional, dokumen kebijakan pendidikan, serta praktik pembelajaran berbasis proyek pada pendidikan vokasi. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk merumuskan model implementasi PBL Center yang relevan dengan Program SMA Double Track.


4. Hasil dan Pembahasan

4.1 Model PBL Center dalam Program SMA Double Track

Hasil kajian menunjukkan bahwa PBL Center dalam Program SMA Double Track dapat dirancang sebagai pusat pembelajaran terpadu yang memfasilitasi siswa dalam mengerjakan proyek berbasis keterampilan vokasi dan kewirausahaan. Proyek dapat berupa pengembangan produk, jasa, atau solusi berbasis potensi lokal, seperti kuliner, tata rias, desain grafis, teknologi informasi, dan kewirausahaan digital.

Melalui PBL Center, siswa tidak hanya mempraktikkan keterampilan teknis, tetapi juga dilatih untuk mengidentifikasi masalah, merancang solusi, bekerja dalam tim, serta berkomunikasi dengan pengguna atau konsumen. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena berangkat dari konteks nyata yang dekat dengan kehidupan siswa.

4.2 Pengembangan Creative Problem Solving Siswa

Penerapan PBL Center mendorong siswa untuk terbiasa menghadapi permasalahan yang bersifat terbuka dan tidak memiliki satu jawaban benar. Proses pembelajaran yang iteratif, termasuk trial and error, memungkinkan siswa belajar dari kegagalan dan memperbaiki solusi. Hal ini secara langsung berkontribusi terhadap pengembangan creative problem solving dan kepercayaan diri siswa.

4.3 Dampak terhadap Kesiapan Kerja dan Wirausaha

PBL Center memberikan pengalaman belajar yang menyerupai dunia kerja dan usaha nyata. Siswa terbiasa mengelola waktu, menyelesaikan tugas berbasis target, dan bertanggung jawab terhadap hasil proyek. Produk atau jasa yang dihasilkan dapat dijadikan portofolio, sehingga meningkatkan kesiapan kerja dan peluang berwirausaha setelah lulus.


5. Kesimpulan

Implementasi Project-Based Learning Center dalam Program SMA Double Track merupakan strategi efektif untuk mengembangkan kemampuan creative problem solving siswa. Pendekatan ini mampu mengintegrasikan keterampilan vokasi, kreativitas, dan pengalaman belajar kontekstual yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan wirausaha. PBL Center tidak hanya memperkuat kompetensi teknis siswa, tetapi juga membentuk karakter mandiri, inovatif, dan adaptif.


6. Rekomendasi

  1. Sekolah penyelenggara SMA Double Track perlu mengembangkan PBL Center sebagai pusat pembelajaran vokasi berbasis proyek

  2. Kurikulum SMA Double Track perlu mengintegrasikan PBL secara sistematis

  3. Diperlukan kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, dan dunia usaha untuk mendukung keberlanjutan PBL Center



Senin, 19 Januari 2026

Topik SPA 1

 




Pemanfaatan Cloud Service untuk menunjang Hyperlocal Marketing di bidang Edukasi


Desain dan Implementasi Single Page Application untuk meningkatkan Transaksasi UMKM


Pengembangan Web App Untuk Sistem Admisi dan Pelaporan menggunakan Google Apps Script


Pembuatan Project Management Tool memanfaatkan Cloud Service


Open CMS untuk Portal Berita menggunakan Arsitektur SPA


https://www.hostinger.com/tutorials/web-application-examples?utm_campaign=Generic-Tutorials-DSA|NT:Se|Lang:EN|LO:ID&utm_medium=ppc&gad_source=1&gad_campaignid=23198985495&gbraid=0AAAAADMy-hZUMmGLWPi0Gp-l_gkMLQ7zQ&gclid=CjwKCAiAybfLBhAjEiwAI0mBBjmyYVvcUXR9SL6lBQRDDa2mO4Dxt6Mj3esEHGCZENSaAkpYZzIVrxoCY4sQAvD_BwE


https://avpmarketo.com/blog/hyperlocal-marketing-strategies/

https://www.techmagnate.com/blog/hyperlocal-marketing-guide/

https://bvarta.com/id/optimalkan-bisnis-dengan-hyperlocal-marketing/

https://berijalan.co.id/article-detail/peluang-bisnis-digital-hyperlocal-dan-cara-memulainya-dengan-sukses#:~:text=Bisnis%20digital%20hyperlocal%20adalah%20model,%22jasa%20terdekat%22%20di%20Google.

https://adi-journal.org/index.php/abdi/article/view/564/463

https://adi-journal.org/index.php/abdi/article/view/564




Judul yang berkaitan dengan SPA

 https://chatgpt.com/c/696dee9e-f4ac-8321-b999-4e037f2724b5

Alnuhait, H., Alzyadat, W., Althunibat, A., Kahtan, H., & Zaqaibeh, B. (2024). Web application performance assessment: A study of responsiveness, throughput, and scalability. *International Journal of Advanced and Applied Sciences*, 11(9), 214–226. https://doi.org/10.21833/ijaas.2024.09.023

Karka, N. R. (2025). Best practices for building scalable Single Page Applications (SPAs). *International Journal of Information Technology and Management Information Systems (IJITMIS)*, 16(1), 1219–1241. https://doi.org/10.34218/IJITMIS_16_01_087

Osei-Wusu, F., Asiedu, W., Yeboah, D., Kar, S., Muntaka, S. A., & Appiah, J. K. (2025). Leveraging information technology tools to create cost-effective alternatives: Using Google Sheets as a platform for competitive debate and public speaking tabulation. *PLOS ONE*, 20(9):e0332576. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0332576

Jonathan, R., & Suprihadi. (2023). Development of Front-End Web Applications Utilizing Single Page Application Framework and React.js Library. *International Journal Software Engineering and Computer Science*, 3(3), 529–536. https://doi.org/10.35870/ijsecs.v3i3.1943

Rahim, A., Siswanto, A., Arvita, Y., & Suyanti, S. (2025). Pendekatan Single Page Application pada Sistem Informasi Bimbingan Tugas Akhir Menggunakan Metode Agile Development. *Journal of Information System*, 10(1), 1–13. https://doi.org/10.33633/joins.v10i1.11531

  • Hend Alnuhait, Wael Alzyadat, Ahmad Althunibat, Hasan Kahtan, Belal Zaqaibeh, & Haneen A. Al-Khawaja (2024).
    Web application performance assessment: A study of responsiveness, throughput, and scalability.
    International Journal of Advanced and Applied Sciences, 11(9):214–226.
    DOI: https://doi.org/10.21833/ijaas.2024.09.023
    — Studi ini menganalisis performa aplikasi web termasuk responsivitas, throughput, dan kemampuan skalabilitas, yang relevan untuk membahas aspek performa SPA di penelitian Anda.

  • Narender Reddy Karka (2025).
    Best practices for building scalable Single Page Applications (SPAs).
    International Journal of Information Technology and Management Information Systems (IJITMIS), 16(1), 1219–1241.
    DOI: https://doi.org/10.34218/IJITMIS_16_01_087
    — Artikel ini membahas praktik terbaik dalam membangun SPA yang skalabel termasuk state management dan optimasi performa

    1. Franco Osei-Wusu, William Asiedu, Donald Yeboah, Shuvajyoti Kar, Siddique Abubakr Muntaka, & Joel Kwesi Appiah (2025).
      Leveraging Information Technology Tools to Create Cost-Effective Alternatives: Using Google Sheets as a Platform for Competitive Debate and Public Speaking Tabulation.
      PLOS ONE, 20(9):e0332576.
      DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0332576
      — Penelitian ini menunjukkan bagaimana Google Sheets + Apps Script dapat dimanfaatkan sebagai backend dengan biaya rendah, relevan untuk sistem cloud berbasis spreadsheet seperti yang digunakan pada penelitian Anda.


    Prediksi gaya belajar VAK

      https://drive.google.com/file/d/1B9kOhnXvCB2yI3tN3_cGBPoGpvDY_lOt/view?usp=drive_link Eksplorasi Model VAK untuk Memprediksi Gaya Belajar ...